Anda Anak Langkat? Kirimkan Suara Anda ke Kami > Kirim Artikel

Daftar Isi

Sajak Kepada Opung, Agar Candi Borobudur Tetap Dikunjungi Warga Kampung

Kepada Opung, Luhut Binsar Pandjaitan, aku mau sedikit bercerita. Perkuliahan semester ini nyaris usai. Ada satu mata kuliah yang menarik yaitu....
Borobudur temple Park, Indonesia: Open stupa at sunrise. 2015. Photo by CEphoto, Uwe Aranas

Alang.my.id - Kepada Opung, Luhut Binsar Pandjaitan, aku mau sedikit bercerita. Perkuliahan semester ini nyaris usai. Ada satu mata kuliah yang menarik yaitu Museum, Collection, Heritage. Dalam mata kuliah wajib ini, Profesor Italia sangat antusias di setiap sesi kelas yang diadakan. Ia kerap menggunakan istilah “western civilisation” dalam memaparkan warisan “keagungan” dan “keanggunan” dari jejak orang Barat di masa lampau.

Di kampus Galileo Galilei menguatkan teori heliosentrik ini, Candi Borobudur jadi objek bahasanku yang akan disidang saat ujian lisan nanti. Sekilas, menyoal museum dan koleksinya, kita akan mendapati Kepala Buddha Borobudur di East Asia Gallery dalam The Raffles Collection — The British Museum. Penggalan kepala itu menandai rediscovery dari Sir Thomas Stamford Raffles pada 1814. Pada saat penemuan, ia melihat kondisi Borobudur yang memprihatinkan setelah berabad “ditinggalkan.” Monumen itu rapuh diguncang gempa dan tertimbun abu vulkanik; juga terpinggirkan karena hegemonik.

Penemuan Candi Borobudur pada abad ke-19 menggemparkan dunia. Dalam buku Java, The Garden of The East, wartawati pertama National Geographic, Eliza Ruhamah Scidmore, dalam perjalanannya ke Candi Borobudur tahun 1895, ia mengabadikan kesan dengan para penjelajah Eropa lainnya. Saat itu, candi ini dianggap lebih agung dari Piramida Agung Giza di Mesir dan beragam monumen megah lainnya.

Sementara Neil MacGregor, dalam A History of the World in 100 Objects, ia mengutip Dr Nigel Barley yang menyatakan, Raffles meyakinkan orang Eropa bahwa keberadaan Candi Borobudur menunjukkan adanya peradaban yang tinggi — setara dengan Yunani dan Roma. Pernyataan itu bukan tanpa sebab, selain nilai arsitektur yang tinggi — pahatan batu dan susunan kompleks — ukiran di candi itu dengan jelas menunjukkan adanya sistem tulisan dan struktur sosial sejak abad ke-8.

Fokusku terpecah, kabar beredar lincah. Di tengah persiapan ujian akhir semester ini, aku mendapati berita yang tak kalah bikin gelisah; semula tiket masuk Borubudur ditetapkan Rp. 750 ribu per orang. Pegiat media pun mencatut sumber informasi itu dari unggahan Feed Instagram Opung. Kabar baiknya, pelajar direncanakan tetap dikenakan Rp. 5.000 per kunjungan. Betulnya itu, Pung?

Aku berpikir, bisa jadi ada kesalahan caption yang dibuat tim akun media sosial Opung lima hari yang lalu itu. Nyatanya, warganet ramai meninggalkan jejak digitalnya. Tercatat ada 376 komentar dalam unggahan itu. Tapi aku yakin, pemberitahuan yang muncul dari akun itu bisa jauh membeludak jika Opung tidak mematikan fitur komentar.

Bicara soal istilah internet, aku ingin Opung mengetahui — jika belum menyadari, warganet kerap menyebutmu sebagai “Lord.” Karena mereka menilai, Opung banyak ditugasi atasan dan mampu menyelesaikan pekerjaan.

Kalau ditarik dalam pemaknaan yang lebih besar, Lord itu menyertai konsep nasikh dan mansukh. Firman yang keluar bisa ada versi perjanjian lama vs perjanjian baru. Jika konteks pernyataan pejabat, agaknya bakalan ada big data yang bisa disusun menjadi Kitab Klarifikasi — kumpulan pernyataan pejabat usai warga menginterupsi.

Benar saja, tak berselang lama muncul klarifikasi yang meluruskan persoalan perubahan harga tiket masuk candi. Memang, bukan Opung yang klarifikasi, melainkan Direktur Utama PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero), Dony Oskaria. Ia menyebut tiket masuk Candi Borobudur tak berubah. “Jangan keliru dengan tiket masuk Borobudur, ya. Tiket masuk tetap, tetapi tiket naik ke candi yang diubah dalam rangka membatasi,” kata Dony kepada Kompas.com, Minggu (5/6).

Lebih lanjut, ada analisa Deep Learning Evello atas kenaikan harga tiket masuk ke Candi Borobudur, mereka memantau media sosial Instagram, Youtube dan TikTok. Alhasil, berita soal kenaikan harga mengundang sentimen negatif dengan skor yang cukup tinggi, mencapai 78.70%: faktor penyumbangnya karena mahal tiket dari Rp. 50 ribu menjadi Rp. 750 ribu.

Meski demikian, masih dari analisa Evello, rasa ingin tahu publik tentang alasan kenaikan ini cukup tinggi mencapai 54%, yang menunjukkan warganet penasaran, apa alasan kenaikan harga yang signifikan untuk memasuki Candi Borobudur (?)

Langkah Menyikapi Overtourism

Pihak balai konservasi mengungkapkan, alasan kenaikan harga ingin menjaga kelestarian candi bercorak Buddha itu. Selama ini, pengunjung massal naik ke struktur Borobudur tanpa batasan — hal ini menyebabkan keausan tangga dan lantai candi. Selain itu, banyaknya sampah pengunjung, vandalisme pada batuan dan dinding candi, degradasi relief yang tak terawat jadi alasan rencana naiknya harga tiket dan pembatasan 1200 pengunjung per hari. “Hanya naik untuk selfie, turun tanpa edukasi,” kata Kepala Balai Konservasi Borobudur, Wiwit Kasiayati dalam Kumparan, Senin, (6/6).

Fenomena perilaku di atas melengkapi unsur kajian “overtourism.” Kelebihan pengunjung dalam destinasi di waktu yang sama, dan abai akan ekosistem destinasi itu sendiri. Benner Maximilian, dalam artikelnya “The Decline of Tourist Destinations: An Evolutionary Perspective on Overtourism” menyatakan, menyikapi keadaan ini perlu tindakan pembatasan. Tak hanya soal pembatasan, ada kajian analisis wisatawan; bagaimana mereka tiba dan berperilaku. Terlebih lagi, ongkos sosial dan ekologis dari pariwisata itu. Lalu, menyoal nilai tambah yang bertahan di destinasi wisata dan berapa besar manfaatnya bagi warga lokal dan wisatawan.

Rencana menaikkan harga tiket menaiki arupadhatu — struktur bangunan puncak Candi Borobudur itu sudah tepat, sayangnya kurang cermat. Publik bisa menoleransi pembatasan pengunjung, namun yang bikin penasaran ialah alasan nominal Rp. 750 ribu jadi angka untuk tiket wisatawan lokal. Opung, apa pertimbangannya?

Hermawan Badar dalam artikel “Estimasi Nilai Ekonomi Wisata Warisan Budaya Candi Borobudur Indonesia” mengadakan wawancara terhadap sejumlah pengunjung Borobudur. Dari 150 responden pengunjung Borobudur kala itu, ada pekerjaan responden sebagai pegawai swasta sebanyak 32,7%, sementara pelajar/mahasiswa sebanyak 27,3%. Persentase terbesar penghasilan responden adalah kurang dari Rp1.000.000 yaitu sebanyak 35,3%, sedangkan yang berpenghasilan antara: Rp1.000.000–Rp3.000.000 tercatat 31,3%.

Syahdan, studi Badar itu memang terpaut sembilan tahun dengan konteks hari ini, namun rencana harga tiket itu pun tetap kontras dengan pendapatan warga lokal. Jawa Tengah saja merupakan provinsi dengan Upah Minimum Provinsi (UMP) terendah di Indonesia. Tahun 2021, UMP Jawa Tengah sebesar Rp 1.798.979,00. Tahun ini, ketetapan UMP 2022 Jawa Tengah sebesar Rp 1.813.011, berarti bertambah sebesar Rp. 14.032 atau 0,8%. Ini belum membahas angka Upah Minimum Regional. Pendek kata, jika warga lokal berkunjung ke puncak candi, mereka menghabiskan lebih dari separuh pendapatan sebulan.

Italia “Memberi Harga” Warisan Dunia

Dibangun 300 tahun lebih dulu dibanding Angkor Wat di Kamboja, Candi Borobudur berhasil didirikan oleh Wangsa Syailendra dan selesai pada tahun 847 M. Jauh sebelum candi itu, pada tahun 72 M, Koloseum dibangun pada pemerintahan Vespasian. Arena gladiator itu terselesaikan oleh anaknya Titus pada tahun 80 M.

Sebagai bekas wilayah kekuasaan Romawi, kota-kota di Italia, terutama Roma, memiliki banyak bangunan sejarah dan situs arkeologi yang menarik bagi wisatawan asing. Selain Koloseum, menurut catatan UNESCO (Agustus 2021), Italia memiliki 57 Situs Warisan Budaya lainnya. Hal ini menjadikannya sebagai negara yang memiliki Situs Warisan Budaya UNESCO terbanyak di dunia.

Menariknya, ada beberapa macam tiket Koloseum. Dimulai dari tiket Colosseum Standard untuk dewasa senilai €16 (Rp. 250 ribu), sementara untuk mereka yang berusia (0–17 tahun) dikenakan €6 (Rp. 90 ribu). Tiket termahal ada pada skema Colosseum Adult ticket + Audioguide (English) senilai €26 (Rp. 400 ribu) sementara tiket usia anak-anak hanya €12 (Rp. 185 ribu). Bagaimana ini Pung?

Untuk kasus puncak Candi Borobudur, apa nilai lebih yang ditawarkan dengan harga Rp. 750 ribu? Bagaimana langkah konservasi yang sedang dan akan dilakukan?

Menimbang Ulang Rencana Tarif Puncak Candi

Ke depannya struktur Candi Borobudur diakses terbatas, jika rencana terlanjur diteken di atas kertas. Namun, niat konservasi pun harus melalui pemaparan prosedur dan alasan bernas. Agaknya Opung dan segenap jajaran balai konservasi yang terhomat, harus bersandar pada masukan dari berbagai elemen masyarakat, tak cukup dari sesama pejabat.

Misalnya, suara mereka yang dari penganut Buddha. “Seharusnya yang bisa naik ke struktur dan puncak bangunan (arupadhatu) hanya umat Buddha yang sedang melakukan peribadatan seperti pradaksina atau san bu yi bai,” tutur Pelaksana Harian DPP Keluarga Cendekiawan Buddhis Indonesia, Eric Fernando kepada Quin Pasaribu yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Senin (6/6).

Umat Buddha di Indonesia menilai situs itu harus terus diperkuat citra spiritual-keagamaannya di masa mendatang. Seyogyanya candi itu dikembalikan lagi ke fungsi utamanya sebagai tempat peribadatan agama Buddha ketimbang pariwisata.

Syahdan, salah satu tokoh Buddha dari Vihara Mendut, Bhikkhu Sri Pannyavaro Mahathera menyatakan, umat Buddha dari kalangan rakyat kecil tidak akan mungkin dapat menjangkau harga tiket naik Candi Borobudur yang dibanderol Rp 750 ribu per orang. “Rakyat kecil, (umat Buddha pedesaan yang berada cukup banyak di Jawa Tengah) sampai meninggal dunia pun tentu tidak akan mampu naik ke atas candi untuk melakukan puja atau pradaksina karena harus membayar biaya yang sangat mahal bagi mereka,” ungkapnya, diterbitkan di Kompas.

Ingatan warga tetap kembali akan big data canggih yang dimiliki pemerintah. Belakangan selalu percaya diri seolah kebijakan yang diajukan pasti diterima publik; tanpa adanya dialog pelik. Masih ingin berprasangka baik, bisa saja biaya ke Arupdhatu Borobudur dinaikkan setelah survei manual kepada 110 juta warganet — jumlah warga penolak Pemilu 2024 yang viral itu. Kini, entitas ratusan juta warganet itu pun masih dipertanyakan.

Penulis percaya, ada niat baik yang dilakukan pejabat apalagi dalam upaya menjaga warisan berabad. Namun, Widji Thukul mengusik benak, ia datang dengan seuntai penggalan Sajak Kepada Bung Dadi yang ditulisnya pada malam Pemilu 1987 di Sorogenen, Solo.

“Ini tanah airmu, di sini kita bukan turis.”

Bagiku, Candi Borobudur memenuhi unsur memorabilia hingga tulisan ini dibuat saat hening malam Italia. Mohon dipertimbangkan kembali usulan biaya ke puncak candi, ada banyak aspek konservasi tak sekadar mendulang pundi-pundi. Demikian sajak kepada Opung, agar Borobudur tak hanya dirasakan yang beruang dan untung, namun selalu bisa dikunjungi warga kampung.

------
Penulis

Alfarisi Maulana
Padova, Italia. 7 Juni 2022
02.20 CEST

Alang adalah platform media Suara Anak Langkat, berdiri sejak tahun 2022

Posting Komentar